Bukan Siti Nurbaya
tapi dia adalah Siti Nur Hayati
sang primadona kampung sebelah
di lahirkan ditengah gelombang kemiskinan
dan hanya pada gubuk tua kecil dan reot
menitip hidup bersama keluarganya
Bukan Datuk Marinngih
tapi dia adalah Si Tuan Qodir
pengkoleksi istri, doyan kawin
juragan kaya, yang rumahnya bak istana megah
Alkisah...
Terlamarlah Nur Hayati menjdi istri ke 16
si bapak ibu, hanya nurut kata
tak peduli anak bak dibantai jutaan celurit
tanggal pernikahan sudah ditentukan
pada hari yang bagus
bulan yang bagus.
Alkisah...
Bak disambar petir siang hari
pujaan hati dilamar si tuan kawin
kata orang...
siapapun orangnya tak ada yang bisa menolak
Bukan Syamsul Bahri
tapi dia adalah Muhammad Bahri
pemuda kampung lugu dan polos
baru setahun keluar dari bumi pesantren
si anak tukang air
yang makan gaji padi sebiji
Muhammad Bahri Siti Nur Hayati
dua insan pecinta yang tak kenal alam
dalam kegelapan suasan kampung
mereka menangis merenugni nasib mereka
Sekali lagi bukan kisah Siti Nurbaya
hanya saja begitu pendek berpikir
sebab di pagi yang belia
mereka berdua terkapar tanpa nyawa
ntahlah....
kabarnya mereka mati melompat jurang nan cadas
Begitulah kabar dapat aku sampaikan
sebongkah batu menjadi prasasti mereka
" Dua Insan Bodoh Terbunuh Sia-sia "
D35UP1D
( Diangkat dari kisah nyata, dan teralur dari cerita saksi mata. maaf jika tak berkenan )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar